Mini Art Market

4–6 November 2026

Wantilan Ubud, Bali

Membaca Penestanan Lewat Lanskap I Wayan Sarda

Di Penestanan, Ubud, lanskap Bali bukan sekadar pemandangan. Sawah bertingkat, pohon kelapa, jalan desa, dan aktivitas sehari-hari telah menjadi bagian dari bahasa visual yang diwariskan dan dikembangkan oleh para seniman selama beberapa generasi. Dari perubahan besar dalam seni rupa Bali pada awal abad ke-20 hingga munculnya gaya Young Artist pada 1960-an, cara seniman memandang dan melukiskan alam terus mengalami perubahan.

Jejaknya dapat ditarik hingga dekade 1930-an, ketika kehadiran seniman asing seperti Walter Spies membawa pengaruh baru terhadap perkembangan seni rupa Bali. Dia bersama Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gde Agung Sukawati, turut mendirikan Pita Maha pada 1936. Perkumpulan tersebut menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan seni lukis Bali, termasuk dengan mendorong seniman untuk memperluas tema dari cerita tradisional menuju kehidupan sehari-hari dan lingkungan di sekitarnya.

Lanskap kemudian mendapatkan tempat yang semakin penting. Alam Bali tidak lagi hanya menjadi latar bagi cerita, tetapi mulai menjadi subjek yang diamati dan ditafsirkan. Perspektif, permainan cahaya, serta perhatian terhadap suasana ruang memperkaya cara seniman menggambarkan lingkungan mereka.

Beberapa dekade kemudian, perubahan lain terjadi di Penestanan. Sekitar awal 1960-an, pelukis asal Belanda Arie Smit bertemu dengan anak-anak di desa yang sedang menggambar. Ia mengajak mereka belajar melukis dengan menyediakan bahan dan ruang, tetapi memberi kebebasan untuk menemukan cara mereka sendiri dalam melihat dan menggambarkan lingkungan.

Dari proses tersebut berkembang gaya yang kemudian dikenal sebagai Young Artist. Warna-warna cerah, bentuk yang spontan, bidang yang cenderung datar, serta penggambaran kehidupan sehari-hari menjadi karakter yang membedakannya dari gaya lukis Bali sebelumnya. Lanskap Penestanan, termasuk sawah, pepohonan, dan kehidupan pedesaan, kemudian hadir dalam bahasa visual yang lebih sederhana, dekoratif, dan penuh warna.

Gerakan tersebut berkembang pesat. Dari kelompok anak-anak yang belajar bersama Arie Smit, jumlah pelukis Young Artist kemudian bertambah hingga ratusan. Karya mereka tidak hanya beredar di Bali, tetapi juga menarik perhatian di luar Indonesia. Penestanan pun semakin dikenal sebagai salah satu desa yang memiliki kehidupan seni yang kuat.

Warisan lanskap tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, salah satunya I Wayan Sarda, yang lahir di Penestanan pada 11 Juli 1972. Jika generasi awal Young Artist menemukan kebebasan melalui bentuk dan warna, Sarda mengembangkan lanskap Penestanan melalui pendekatan yang lebih teliti dan terukur.

Alam tetap menjadi sumber inspirasinya. Namun, di atas kanvas, Sarda memberikan perhatian besar pada detail dan pengolahan ruang. Terasering sawah, batang dan daun kelapa, pantulan langit di permukaan air, hingga perubahan cahaya dikerjakan dengan ketelitian yang menjadi salah satu ciri khas karyanya.

Komposisi lanskapnya tetap membawa ingatan pada tradisi Penestanan: sawah yang berlapis, pepohonan yang memenuhi ruang, serta kehidupan Bali sebagai bagian dari pemandangan. Namun, pengolahan detail dan cahaya membuat karya Sarda memiliki karakter yang lebih tenang dan realistis. Ia tidak meninggalkan bahasa visual yang diwariskan, tetapi mengembangkannya melalui keterampilan teknis dan pengamatan yang mendalam terhadap alam.

Dalam konteks ini, karya Sarda dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan panjang bagaimana lanskap Bali terus ditafsirkan oleh generasi yang berbeda. Dari pengaruh Walter Spies dan perkembangan Pita Maha, hingga kebebasan visual Young Artist, setiap generasi membawa cara pandang baru terhadap lingkungan yang sama.

Bagi Sarda, sawah, pepohonan, dan ruang hidup di Penestanan bukan sekadar objek yang indah untuk dilukiskan. Detail-detail tersebut menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari dan ingatan tentang tempat ia tumbuh. Ketika dituangkan ke atas kanvas dengan ketekunan yang tinggi, lanskap tersebut berubah menjadi rekaman tentang sebuah lingkungan yang terus bergerak.

Lebih dari sekadar mempertahankan tema pemandangan Bali, perjalanan I Wayan Sarda menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan justru karena terus ditafsirkan ulang. Lanskap Penestanan yang dahulu menjadi bagian dari perkembangan Young Artist kini menemukan bentuk lain melalui ketekunan Sarda.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang berubah mungkin adalah gaya, teknik, dan cara melihat. Namun, satu hal tetap bertahan: keinginan untuk merekam tempat yang menjadi bagian dari kehidupan. Di tangan Sarda, Penestanan kembali hadir di atas kanvas, bukan sebagai gambaran Bali yang berhenti pada masa lalu, tetapi sebagai lanskap yang terus hidup dan berubah bersama zamannya.

EXPLORE OTHER stories