I Gusti Agung Ngurah Kresna Kepakisan (Ngurah KK) adalah salah satu seniman yang memiliki peran penting dalam perkembangan seni lukis Ubud. Ia dikenal melalui karya-karya dengan pendekatan Young Artist Style, atau naïve art, yang banyak menangkap suasana pedesaan, kehidupan sehari-hari, serta kekuatan tradisi Hindu Bali di Ubud dan sekitarnya. Ketertarikannya pada lanskap dan kehidupan masyarakat menjadi sumber inspirasi yang terus mengalir dalam praktik melukisnya.
Ngurah KK mulai belajar melukis pada 1960, ketika berusia 13 tahun, di bawah bimbingan langsung Arie Smit, maestro pelukis kelahiran Belanda yang menetap di Ubud. Arie Smit, yang telah mengenalnya sejak kecil, menyebut Ngurah KK sebagai “a faithful artist.” Sejak itu, ia terus mengembangkan praktiknya secara konsisten dan menjadikan kehidupan serta alam Ubud sebagai bagian penting dari bahasa visualnya.
Perjalanan artistiknya telah mendapatkan pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Pada 1976, karyanya terpilih dalam pameran di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan ia menerima penghargaan yang diserahkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Pada 1983, karyanya memenangkan kompetisi internasional yang diselenggarakan World Wildlife Fund (WWF) di Wina, Swiss. Pada 1996, karya Orang-orang Sedang Potong Alang (Men Cutting Grass) digunakan oleh UNICEF dalam kartu pos terbitannya.
Atas kontribusinya terhadap perkembangan dan pelestarian seni budaya Bali, Ngurah KK menerima Piagam Penghargaan Wija Kusuma dari Pemerintah Kabupaten Gianyar pada 2008 dan Piagam Dharma Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali pada 2012. Hingga kini, karya-karyanya terus menjadi bagian dari perjalanan seni lukis Ubud, merekam hubungan yang dekat antara manusia, alam, dan kehidupan tradisional Bali.