Made Griyawan (b. Batuan, Bali, 1979) grew up surrounded by art as the son of artists I Wayan Taweng and Ni Wayan Bari. He began drawing at the age of seven and developed his practice largely through self-study, guided by his parents. His father encouraged him not to imitate, but to draw the things he loved. This early freedom shaped Geriyawan’s distinctive visual language, which emerged through both conscious and unconscious explorations of who he is, ultimately becoming a reflection of his identity. In 2018, he founded Studio Gelombang in his home village of Batuan, Bali, and participated in an artist residency in Townsville, Australia. His solo exhibitions include Awakening Soul (Tokyo, 2016), Windows Onto Another World (Maya Sanur Resort & Spa, Bali, 2018), Mana (Uluwatu, 2024), Dancing Water (John Hardy, Seminyak, Bali, 2024), and Outsider Art Fair (Metropolitan Pavilion, New York, 2025).
Bahasa Indonesia
Made Griyawan (lahir di Batuan, Bali, 1979) tumbuh dalam lingkungan seni sebagai putra dari seniman I Wayan Taweng dan Ni Wayan Bari. Ia mulai menggambar sejak usia tujuh tahun dan mengembangkan praktik seninya secara otodidak dengan bimbingan kedua orang tuanya. Ayahnya mendorongnya untuk tidak meniru, melainkan menggambar hal-hal yang ia sukai. Kebebasan sejak awal ini membentuk bahasa visual Geriyawan yang khas, yang lahir dari eksplorasi sadar maupun bawah sadar tentang siapa dirinya, dan pada akhirnya menjadi refleksi identitasnya. Pada 2018, ia mendirikan Studio Gelombang di desa kelahirannya, Batuan, Bali, sekaligus mengikuti program residensi seniman di Townsville, Australia. Pameran tunggalnya antara lain Awakening Soul (Tokyo, 2016), Windows Onto Another World (Maya Sanur Resort & Spa, Bali, 2018), Mana (Uluwatu, 2024), Dancing Water (John Hardy, Seminyak, Bali, 2024), dan Outsider Art Fair (Metropolitan Pavilion, New York, 2025).
Photo Courtesy of Rahman Indra (Rai)